Chapter 1: Ladzdzah vs Ni'mah

Ladzdzah vs Ni'mah

Abu Hilal al-'Askari dalam Al-Furuq al-Lughawiyyah 1/197 memberikan batasan yang mencengangkan:

الْفَرْقُ بَيْنَ اللَّذَّةِ وَالنِّعْمَةِ:
اللَّذَّةُ: إِدْرَاكُ الْمُلَائِمِ وَالشَّهْوَةُ الَّتِي تَلْتَذُّ بِهَا النَّفْسُ حَالًّا.
النِّعْمَةُ: مَا أَنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَى الْعَبْدِ، سَوَاءٌ اِلْتَذَّ بِهِ أَمْ لَمْ يَلْتَذَّ.
"Al-Ladzdzah adalah sensasi nikmat yang dirasakan jiwa saat itu juga. An-Ni'mah adalah karunia Allah kepada hamba, baik disertai kenikmatan maupun tidak."

Ladzdzah

Akar katanya: ل ذ ذ.

Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah 5/204 menjelaskan bahwa akar ini berpusat pada satu makna:

يَدُلُّ عَلَى طِيبِ طَعْمٍ فِي الشَّيْءِ
"Menunjukkan pada baiknya cita rasa pada sesuatu."

Dari akar inilah lahir kata ladzdzah dan ladzaadzah: nikmatnya cita rasa sesuatu. Juga al-ladz yang berarti tidur, karena tidur nyenyak adalah kenikmatan yang selaras dengan jiwa yang lelah. Bahkan orang yang tutur katanya manis pun disebut ladz.

Maka Ladzdzah adalah sensasi "enak"-nya itu sendiri. Manisnya gula di lidah, sejuknya angin di kulit, bangganya saat dipuji. Subjektif dan dirasakan saat itu juga. Syarat mutlaknya: harus terasa enak.

اللَّذَّةَ لَا تَكُونُ إِلَّا مُشْتَهَاةً
"Ladzdzah hanya ada pada yang dihasrati."
— Al-Furuq al-Lughawiyyah 1/197

Ni'mah

Akar katanya: ن ع م.

Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah 5/446 menjelaskan bahwa akar ini memiliki banyak cabang makna, namun semuanya kembali ke satu poros:

يَدُلُّ عَلَى تَرَفُّهٍ وَطِيبِ عَيْشٍ وَصَلَاحٍ
"Menunjukkan pada kemewahan, baiknya kehidupan, dan kebaikan."

Dari akar ini lahir: an-ni'mah (harta dan kehidupan baik), an-na'mah (kesenangan hidup), an-na'am (unta, karena merupakan harta paling bernilai), an-nu'ama (angin lembut), bahkan kata na'am (iya) yang berarti pengakuan atas kebaikan.

Maka Ni'mah adalah pemberian yang mendatangkan kebaikan, entah disukai atau tidak. Bahkan beban syariat (taklif) pun disebut Ni'mah.

يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ نِعْمَةً لَا تُشْتَهَى كَالتَّكْلِيفِ
"Ni'mah bisa ada pada yang tidak disukai, seperti beban syariat."
— Al-Furuq al-Lughawiyyah 1/197

Mengapa demikian?

إِنَّمَا صَارَ التَّكْلِيفُ نِعْمَةً لِأَنَّهُ يَعُودُ عَلَيْهَا بِمَنَافِعَ وَمَلَاذَّ
"Taklif menjadi Ni'mah karena ia akan kembali membawa manfaat dan kelezatan hakiki."
— Al-Furuq al-Lughawiyyah 1/197

Intinya

Es krim itu Ladzdzah. Enak, nagih. Tapi berlebihan? Diabetes. Ladzdzah yang melampaui batas bukan lagi Ni'mah, tapi bencana.

Jamu pahit itu Ni'mah. Tidak enak sama sekali. Tapi menyembuhkan.

Scroll TikTok jam 1 pagi: Ladzdzah maksimal. Hasilnya? Besok telat Shubuh. Itu bukan Ni'mah, itu istidraj.

Bangun Shubuh dengan berat hati: tidak ada Ladzdzah-nya. Tapi justru inilah Ni'mah. At-Taklif yang menjadi sebab kebahagiaan.