Kenapa Ibadah Ini Disebut "Shaum" (الصَّوْم)?
Kita semua tahu puasa. Setiap tahun, sebulan penuh kita jalani. Apakah pernah kepikiran, kenapa ibadah ini disebut shaum (الصَّوْم)?
Apa sih arti di balik kata itu? Kok bisa ibadah yang kita lakukan dari subuh sampai maghrib ini dinamain dengan kata yang mungkin punya makna lebih dalam dari sekadar "nggak makan dan minum"?
Yuk, kita bongkar akar katanya, lihat penjelasan para ulama, dan temukan hikmah di balik penamaan ini!
Cekidot!
AKAR KATA (ص و م) DAN MAKNA DASARNYA
1. Makna Dasar
Para ahli bahasa memberikan penjelasan, makna paling dasar dari kata shaum adalah al-imsak (الإمساك), yaitu menahan diri. Ini sebagaimana dijelaskan dalam Taj al-'Arus (32/528):
صامَ صَوْمًا وَصِيَامًا، وَاصْطَامَ: إِذَا أَمْسَكَ. هَذَا أَصْلُ اللُّغَةِ فِي الصَّوْمِ.2. Makna dalam Syariat
Kalau dalam istilah agama, shaum punya spesifikasi. Masih dalam Taj al-'Arus (32/528) juga dijelaskan:
وَفِي الشَّرْعِ: عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ.Dan tentu saja, menahan dari hal-hal lain yang membatalkan juga termasuk, seperti hubungan suami-istri dan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya.
KENAPA PUASA DISEBUT "SHAUM"?
Nah, ini dia inti pembahasannya. Kenapa ibadah ini dinamain shaum?
Ternyata ada beberapa penjelasan menarik dari para ulama:
√ Penjelasan Pertama: Karena Menahan Jiwa dari Syahwat
Ibnu al-Anbari, seorang ulama bahasa terkemuka, ngasih penjelasan yang gamblang. Dinukil oleh Abu Bakr Ibn al-'Arabi dalam al-Masalik (4/242):
وَقَالَ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ: إِنَّمَا سُمِّيَ الصَّوْمُ صَوْمًا؛ لِأَنَّهُ حَبْسٌ لِلنَّفْسِ عَنِ الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ وَالشَّهَوَاتِ.√ Penjelasan Kedua: Shaum adalah Shabr (Sabar)
Ternyata dalam Al-Qur'an, kata shabr (صبر) sering diartikan sebagai shaum (puasa) berdasarkan firman Allah:
﴿وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ﴾ [البقرة: ٤٥]Banyak mufassir yang menafsirkan "sabar" di ayat ini sebagai puasa. Di antaranya:
- Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam Bahr al-'Ulum (1/49):
وَقَالَ مُجَاهِدٌ: اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ يَعْنِي بِالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ، وَإِنَّمَا سُمِّيَ الصَّوْمُ صَبْرًا لِأَنَّ فِي الصَّوْمِ حَبْسَ النَّفْسِ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالرَّفَثِ."Mujahid berkata: 'Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat' maknanya dengan puasa dan shalat. Dinamakan puasa sebagai sabar karena dalam puasa itu ada penahanan diri dari makanan, minuman, dan hal-hal yang kotor." - Al-Qadhi 'Iyadh dalam Masyariq al-Anwar (2/295):
وَسُمِّيَ الصَّوْمُ صَبْرًا لِثَبَاتِ الصَّائِمِينَ وَحَبْسِهِمْ أَنْفُسَهُمْ عَنْ شَهَوَاتِهِمْ."Dinamakan puasa sebagai sabar karena keteguhan orang-orang yang berpuasa dan penahanan diri mereka dari syahwat-syahwat mereka." - Imam As-Sam'ani dalam tafsirnya (1/74):
وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: هُوَ الصَّوْم. وَمِنْهُ سُمِّيَ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرَ الصَّبْرِ."Al-Hasan al-Bashri berkata: (Sabar) itu adalah puasa. Dan dari situlah bulan Ramadhan disebut bulan kesabaran (syahr al-shabr)."
√ Penjelasan Ketiga: Shaum adalah Shamt (Diam)
Dalam Taj al-'Arus (32/528), disebutkan bahwa shaum juga bisa berarti diam:
وَمِنَ الْمَجَازِ: الصَّوْمُ: الصَّمْتُ، وَبِهِ فُسِّرَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا﴾.Rasulullah SAW juga bersabda:
«الصِّيَامُ جُنَّةٌ... فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ... فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ»HUBUNGAN SHAUM DENGAN SABAR DALAM AL-QUR'AN
1. As-Sabr = Ash-Shaum dalam Tafsir Al-Qur'an
Imam As-Sam'ani menjelaskan hikmah kenapa kita diperintah minta tolong dengan puasa, dalam tafsirnya (1/74):
قيل: لِأَن الصَّوْم يُزَهِّدُهُ فِي الدُّنْيَا... لِتَقْوَوْا عَلَى الْإِقْبَالِ عَلَى الْآخِرَةِ وَالْإِعْرَاضِ عَنِ الدُّنْيَا.2. Tiga Tingkatan Sabar
Abu Laits As-Samarqandi dalam tafsirnya (1/49) membagi sabar jadi tiga tingkatan:
الصَّبْرُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ: صَبْرٌ عَلَى الشِّدَّةِ وَالْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ... وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ.3. Orang yang Berpuasa Disebut "Saa'ihuun" (السَّائِحُونَ)
Ibn al-'Arabi dalam al-Masalik (4/242) menjelaskan:
وَقَدْ يُسَمَّى الصَّائِمُ سَائِحًا، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿السَّائِحُونَ﴾ يَعْنِي الصَّائِمِينَ.PENJELASAN TAMBAHAN DARI KITAB LAIN
√ Makna Shaum dalam Al-Qur'an
Dalam Mu'jam al-Lughah al-'Arabiyyah al-Mu'ashirah (2/1338) karya Ahmad Mukhtar Umar, dijelaskan bahwa shaum secara umum bermakna:
صَوْم [مفرد]: مصدر صامَ. صمت «﴿إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا﴾: إمساكًا عن الكلام».√ Makna Filosofis dari Taj al-'Arus
Dalam Taj al-'Arus (32/529), Az-Zabidi mengutip perkataan Sufyan bin 'Uyainah tentang hubungan shaum dan sabar:
الصَّوْمُ هُوَ الصَّبْرُ، يَصْبِرُ الْإِنْسَانُ عَلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالنِّكَاحِ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾√ Makna Shaum sebagai Diam
Dalam Mu'jam al-Lughah al-'Arabiyyah al-Mu'ashirah (2/1338) juga dijelaskan makna shaum sebagai diam atau puasa dari berbicara, yang diambil dari kisah Maryam dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa shaum bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga mengendalikan lisan.
KESIMPULAN, KENAPA DINAKAMAN SHAUM?
Ibadah ini disebut SHAUM (الصَّوْم) karena:
- Esensinya Menahan Diri (Al-Imsak). Inilah makna dasar dari kata shaum itu sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Taj al-'Arus.
- Bentuk Kesabaran (Ash-Shabr). Puasa adalah puncak dari kesabaran karena menahan lapar, dahaga, dan syahwat dalam waktu yang lama. Para mufassir menafsirkan kata "sabar" dalam QS. Al-Baqarah: 45 sebagai puasa, seperti dijelaskan oleh As-Samarqandi, As-Sam'ani, dan Al-Qadhi 'Iyadh.
- Melatih Diamnya Lisan (Ash-Shamt). Shaum juga bermakna diam, sebagaimana disebutkan dalam Taj al-'Arus dan Mu'jam al-Lughah al-'Arabiyyah al-Mu'ashirah. Ini mengajarkan kita bahwa puasa bukan sekadar menahan perut, tapi juga menahan lisan dari perkataan sia-sia.
- Penjara Syahwat. Seperti dijelaskan oleh Ibnu al-Anbari dalam al-Masalik, puasa adalah penjara bagi jiwa dari segala keinginan rendah.
- "Mengembara" Meninggalkan Dunia Menuju Allah. Orang yang berpuasa disebut saa'ih (pengembara spiritual), seperti dijelaskan oleh Ibn al-'Arabi dalam al-Masalik.
PESAN MORAL BUAT KITA
- Latih jiwa untuk "Nahan Diri". Puasa mengajarkan kita imsak—menahan dari yang halal saat berpuasa, apalagi dari yang haram di luar puasa.
- Jadikan puasa sebagai perisai (Junnah). Rasulullah menyebut puasa sebagai junnah (perisai), yang melindungi kita dari perbuatan buruk dan dari api neraka.
- Tumbuhkan rasa empati. Dengan merasakan lapar, kita bisa lebih memahami penderitaan saudara-saudara kita yang kekurangan.
- Fokus pada kualitas, bukan cuma nahan lapar. Puasa yang sempurna adalah puasa seluruh anggota tubuh: mata, lisan, telinga, hati.
- Puasa sebagai terapi spiritual. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, tapi proses pembersihan jiwa yang rutin.
Ingat hadits yang dikutip Ibn al-'Arabi dalam al-Masalik (4/242):
«مَنْ صَامَ شَهْرَ الصَّبْرِ فَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ»Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat,
Barakallah Fikum...

0 Komentar