Kenapa Sih Disebut "Ramadan"?

Pernah kepikiran nggak, kenapa bulan puasa kita namanya Ramadan? Bulan yang kita tunggu-tunggu setiap tahun ini ternyata menyimpan perdebatan seru di kalangan ulama sejak dulu. Ada yang bilang karena panasnya fisik, ada juga yang bilang karena panasnya makna, sampai-sampai ada yang nganggep ini nama Allah!

Yuk, kita bedah!

√ Dari Akar Kata Apa Sih?

Sebelum jauh, kita intip dulu asal-usul kata ini. Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitab Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an (hlm. 368) menjelaskan:

رَمَضَ: شَهْرُ رَمَضانَ، هو من الرَّمْضِ، أي: شِدَّةُ وَقْعِ الشَّمْسِ، يُقَالُ: أَرْمَضَتْهُ فَرَمِضَ، أي: أَحْرَقَتْهُ الرَّمْضَاءُ، وَهِيَ شِدَّةُ حَرِّ الشَّمْسِ، وَأَرْضٌ رَمِضَةٌ، وَرَمِضَتِ الْغَنَمُ: رَعَتْ فِي الرَّمْضَاءِ فَقَرِحَتْ أَكْبَادُهَا.

Artinya, akar kata Ramadan itu dari ar-ramd, yaitu panasnya batu atau tanah karena terik matahari. Ar-Ramdha' adalah pasir yang membara. Kalau kambing merumput di panas terik sampai hatinya "terbakar", disebut ramidhat al-ghanam.

√ Kenapa Sih Namanya Ramadan?

Para ulama beda pendapat soal alasan di balik nama ini. Ada setidaknya tiga versi besar.

1. Versi Pertama: Karena Jatuh di Musim Panas

Ini versi paling klasik dan masuk akal secara historis. Dalam Tafsir al-Baghawi (1/200), Quthrub bilang:

قَالَ أَبُو عَلِيّ قُطْرُبٌ: إِنَّمَا سُمِّيَ رَمَضَانُ؛ لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَصُومُونَ فِي الْحَرِّ الشَّدِيدِ، وَمِنْهُ الرَّمْضَاءُ: لِلرَّمْلِ الَّذِي حُمِيَ بِالشَّمْسِ.
"Mereka menamainya Ramadan karena mereka berpuasa di musim panas yang sangat terik. Kata ini diambil dari ar-ramdha', yaitu pasir yang panas karena matahari."

Dalam Al-Hawi al-Kabir karya Al-Mawardi (3/400), Al-Qadhi Husain menambahkan:

رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ: سُمِّيَ رَمَضَانُ؛ لِأَنَّهُ وَافَقَ ابْتِدَاءَ الصَّوْمِ زَمَانًا حَارًّا، وَكُنَّا يَرْمَضُ فِيهِ الْعُشْبُ – يَعْنِي يَحْتَرِقُ – لِالْتِهَابِ الرَّمْضَاءِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ.
"Disebut Ramadan karena bertepatan dengan awal diwajibkannya puasa di musim panas, saat itu rumput-rumput terbakar karena teriknya matahari."

Kalau dianalogikan gini: orang Arab zaman dulu itu menamai bulan sesuai kondisi alam. Dua bulan Rabi'ul Awwal dan Rabi'uts Tsani dinamai karena bertepatan musim semi. Nah, kalau bulan ini bertepatan musim panas membara, ya dinamai Ramadan.

2. Versi Kedua: Karena Membakar Dosa

Ini spiritualnya ya. Dalam Al-Hawi al-Kabir (3/400), Al-Mawardi mengutip riwayat dari Anas bin Malik:

وَقِيلَ: سُمِّيَ رَمَضَانُ؛ لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ، أَيْ: يُحْرِقُهَا، وَهَذَا مَا عَزَاهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْبَنْدَنِيجِيُّ إِلَى أَنَسٍ، وَقَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ: إِنَّهُ قَوْلُ النَّبِيِّ ﷺ.
"Dinamai Ramadan karena bulan ini membakar dosa-dosa. Maksudnya, di bulan ini dosa-dosa orang beriman 'dibakar hangus' oleh ampunan Allah."

Bahkan dalam Faidh al-Qadir karya Al-Munawi (4/143) disebutkan hadits khusus:

تَدْرُونَ لِمَ سُمِّيَ رَمَضَانَ؟ لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ أَيْ يُذِيبُهَا مِنَ الْحَرِّ.
"Tahukah kalian mengapa dinamai Ramadan? Karena Ramadan melelehkan dosa-dosa karena panas."

Ada catatan penting nih: Ibnul 'Iraq dalam Tanzih asy-Syari'ah (2/78) bilang sanad hadits ini bermasalah. Ada perawi bernama Ziyad bin Maimun yang dhaif. Al-Baihaqi dalam Fadha'il al-Auqat (hlm. 70) juga melemahkan hadits serupa.

3. Versi Ketiga: Ramadan Itu Nama Allah?

Ini versi kontroversial. Mujahid (ulama besar tabi'in) konon berkata, sebagaimana dicatat dalam Tafsir al-Qurthubi (2/291):

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: هُوَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ، وَلِذَلِكَ لَا يُجْمَعُ عَلَى رَمَضَانَاتَ.
"Jangan kalian bilang 'Ramadan' saja, bilanglah 'Syahru Ramadan'. Karena aku khawatir Ramadan itu nama Allah."

Pendapat ini ditolak jumhur ulama. Imam An-Nawawi di Al-Majmu' (6/378) tegas bilang, pendapat yang shahih, boleh bilang "Ramadan" saja. Karena Nabi sendiri bersabda: "Idza ja'a Ramadan..." (Jika datang Ramadan...), tanpa bilang "bulan" dulu.

Imam As-Sam'ani dalam Tafsir as-Sam'ani (1/196) juga ngasih catatan menarik:

قَوْله تَعَالَى: ﴿شهر رَمَضَان﴾ سُمِّيَ الشَّهْرُ بِذَلِكَ لِشُهْرَتِهِ. وَأَمَّا رَمَضَانُ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يُسَمَّى شَهْرَ رَمَضَانَ نَاتِقًا.

Ini info menarik ya: di masa jahiliyah, bulan Ramadan punya nama lain, yaitu Natiq. Artinya kurang lebih: yang mengguncang atau memindahkan. Mungkin karena di bulan ini mereka pindah tempat cari sumber air atau sesuatu.

√ Tunggu Dulu Ya, Ada Perbedaan Lain!

Seperti halnya kata lain dalam bahasa Arab, Ramadan juga punya keunikan dalam bentuk jamaknya. Makki bin Abi Thalib dalam Al-Hidayah fi at-Tashrif (hlm. 39) menjelaskan:

فَمَنْ قَالَ: «شَهْرُ رَمَضَانَ» قَالَ فِي التَّثْنِيَةِ «شَهْرَا رَمَضَانَ» وَفِي الْجَمْعِ «أَشْهُرَ رَمَضَانَ»، وَ«شَهْرَاتِ رَمَضَانَ». وَمَنْ قَالَ: «رَمَضَانُ» بِغَيْرِ شَهْرٍ قَالَ فِي الْجَمْعِ «رَمَضَانَاتٌ». وَحَكَى الْكُوفِيُّونَ «رَمَاضِينُ»، وَحَكَوْا «أَرْمِضَةٌ»، وَحُكِيَ «رُمَاضٌ».

Jadi ulama beda cara nge-jama'-in:

  • · Ada yang bilang: Ramadhanat
  • · Ulama Kufah punya versi: Ramadhin dan Armidhah
  • · Ada juga yang bilang: Rumadh

Kata ini, karena nama (alamiyyah) dengan alif-nun tambahan, termasuk mamnu' min ash-sharf (tidak menerima tanwin). Makanya kita baca: "Syahru Ramadhana" bukan "Ramadanin".

√ Keutamaan Bulan Ramadan

Setelah kita membahas kenapa bulan ini dinamakan Ramadan, sekarang saatnya kita lihat apa saja keistimewaan yang membuat bulan ini begitu istimewa.

1. Bulan Diturunkannya Al-Qur'an

Ini adalah keutamaan terbesar yang disebut langsung dalam Al-Qur'an. Allah berfirman:

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ﴾
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam Ad-Durr al-Mantsur (1/462), Ibnu Abbas menjelaskan proses turunnya Al-Qur'an:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى الْقُرْآنَ جُمْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى بَيْتٍ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا يُسَمَّى بَيْتَ الْعِزَّةِ، ثُمَّ مِنْهُ أَنْزَلَ إِلَى الْأَرْضِ إِرْسَالًا.
"Allah menurunkan Al-Qur'an secara sekaligus di bulan Ramadan ke sebuah rumah di langit dunia yang disebut Baitul 'Izzah, kemudian dari sana diturunkan ke bumi secara bertahap."

Bahkan, kitab-kitab suci lainnya juga diturunkan di bulan Ramadan. Dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 268), Ibnu Rajab meriwayatkan dari Watsilah bin Al-Asqa':

رَوَى وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ فِي السَّادِسَةِ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْإِنْجِيلُ فِي ثَلَاثَ عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ».
"Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadan, Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadan, Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadan, dan Al-Qur'an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadan."

2. Ramadan Adalah Penghulu Segala Bulan

Dalam Mughni al-Muhtaj (1/592), disebutkan dengan jelas keutamaan Ramadan:

قَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ: وَهُوَ أَفْضَلُ الْأَشْهُرِ. وَفِي الْحَدِيثِ «رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُورِ»
"Ibnu Abdus Salam berkata: 'Ramadan adalah bulan yang paling utama.' Dan dalam hadits disebutkan: 'Ramadan adalah penghulu segala bulan.'"

3. Pahala Langsung dari Allah Tanpa Batas

Salah satu keutamaan terbesar puasa Ramadan adalah bahwa Allah sendiri yang akan membalasnya, tanpa perantara dan tanpa batasan hitungan. Al-Khattabi dalam A'lam al-Hadits (2/1127) menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: (وَأَنَا أَجْزِي بِهِ)، وَمَعْلُومٌ أَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الَّذِي يَجْزِي بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ دُونَ غَيْرِهِ، وَالْمَعْنَى: مُضَاعَفَةُ الْجَزَاءِ مِنْ غَيْرِ عَدَدٍ وَلَا حِسَابٍ، كَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾.

Ini adalah keistimewaan luar biasa. Semua amal kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, tapi puasa? Allah tidak menyebut batasannya. Karena puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Al-Khattabi menambahkan:

وَقَوْلُهُ عَلَى أَثَرِهِ: (وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا)، وَإِنَّمَا عَقَّبَهُ بِهِ إِعْلَامًا أَنَّ الصَّوْمَ مُسْتَثْنًى مِنْ هَذَا الْحُكْمِ.
"Sabda beliau setelah itu: 'Dan kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.' Ini disebutkan setelahnya sebagai pemberitahuan bahwa puasa dikecualikan dari hukum ini."

4. Bulan Sedekah

Ramadan adalah bulan berbagi. Nabi Muhammad SAW adalah orang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif (hlm. 318) menggambarkan kebiasaan para salaf:

كَانَ كَثِيرٌ مِنَ السَّلَفِ يُوَاسُونَ مِنْ إِفْطَارِهِمْ أَوْ يُؤْثِرُونَ بِهِ وَيَطْوُونَ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَصُومُ وَلَا يُفْطِرُ إِلَّا مَعَ الْمَسَاكِينِ، فَإِذَا مَنَعَهُ أَهْلُهُ عَنْهُمْ لَمْ يَتَعَشَّ تِلْكَ اللَّيْلَةَ.
"Banyak dari kalangan salaf yang memberi makanan berbuka mereka kepada orang lain, atau mengutamakan orang lain dan mereka sendiri menahan lapar. Ibnu Umar biasa berpuasa dan tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalangi orang miskin itu (untuk makan bersamanya), beliau tidak makan malam di malam itu."

Masih dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 319-320):

وَاشْتَهَى بَعْضُ الصَّALِحِينَ مِنَ السَّلَفِ طَعَامًا، وَكَانَ صَائِمًا، فَوُضِعَ بَيْنَ يَدَيْهِ عِنْدَ فِطُورِهِ، فَسَمِعَ سَائِلًا يَقُولُ: مَنْ يُقْرِضُ الْمَلِيَّ الْوَفِيَّ الْغَنِيَّ؟ فَقَالَ: عَبْدُهُ الْمُعْدِمُ مِنَ الْحَسَنَاتِ. فَقَامَ فَأَخَذَ الصَّحْفَةَ فَخَرَجَ بِهَا إِلَيْهِ، وَبَاتَ طَاوِيًا.
"Ada seorang salih yang sangat menginginkan suatu makanan, dan ia sedang berpuasa. Ketika makanan itu dihidangkan di hadapannya untuk berbuka, ia mendengar seorang peminta-minta berkata: 'Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Kaya?' Ia menjawab: 'Hamba-Nya yang fakir dari kebaikan.' Lalu ia bangkit, mengambil piring berisi makanan itu, memberikannya kepada peminta tadi, dan ia bermalam dalam keadaan lapar."

Tentang Imam Ahmad, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 320):

وَجَاءَ سَائِلٌ إِلَى الْإِمَامِ أَحْمَدَ، فَدَفَعَ إِلَيْهِ رَغِيفَيْنِ كَانَ يَعُدُّهُمَا لِفِطْرِهِ، ثُمَّ طَوَى وَأَصْبَحَ صَائِمًا.
"Seorang peminta-minta datang kepada Imam Ahmad, lalu beliau memberikan dua roti yang telah disiapkannya untuk berbuka. Kemudian beliau bermalam dalam keadaan lapar dan keesokan harinya tetap berpuasa."

Tentang Ibnu Al-Mubarak, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 321):

وَكَانَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يُطْعِمُ إِخْوَانَهُ فِي السَّفَرِ الْأَلْوَانَ مِنَ الْحَلْوَى وَغَيْرِهَا وَهُوَ صَائِمٌ.
"Ibnu Al-Mubarak di tengah perjalanan (dalam kondisi berpuasa) memberi makan teman-temannya berbagai macam makanan manis dan lainnya, sementara beliau sendiri berpuasa."

Ibnu Rajab kemudian berkomentar dengan nada haru, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 322):

سَلَامُ اللهِ عَلَى تِلْكَ الْأَرْوَاحِ. رَحْمَةُ اللهِ عَلَى تِلْكَ الْأَشْبَاحِ؛ لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا أَخْبَارٌ وَآثَارٌ. لَا تَعْرِضَنَّ لِذِكْرِنَا فِي ذِكْرِهِمْ … لَيْسَ الصَّحِيحُ إِذَا مَشَى كَالْمُقْعَدِ
"Selamat untuk ruh-ruh itu, rahmat Allah untuk jasad-jasad itu. Tak tersisa dari mereka kecuali kabar dan jejak. Jangan kau sebut kami dalam ingatan tentang mereka… Karena orang sehat jika berjalan tidak sama dengan orang yang duduk (karena lumpuh)."

Imam Syafi'i dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 317) juga memberikan catatan penting:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أُحِبُّ لِلرَّجُلِ الزِّيَادَةَ بِالْجُودِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللهِ ﷺ، وَلِحَاجَةِ النَّاسِ فِيهِ إِلَى مَصَالِحِهِمْ، وَلِتَشَاغُلِ كَثِيرٍ مِنْهُمْ بِالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ عَنْ مَكَاسِبِهِمْ.
"Aku menyukai seseorang untuk menambah kedermawanannya di bulan Ramadan, meneladani Rasulullah SAW, karena kebutuhan manusia pada bulan ini untuk kemaslahatan mereka, dan karena banyak dari mereka yang sibuk dengan puasa dan shalat hingga meninggalkan pekerjaan mereka."

5. Bulan Al-Qur'an dan Mudarasah

Ramadan memiliki hubungan khusus dengan Al-Qur'an. Karena itu, para salaf memperbanyak tilawah di bulan ini. Dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 310), Ibnu Rajab menjelaskan:

وَدَلَّ الْحَدِيثُ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْبَابِ دِرَاسَةِ الْقُرْآنِ فِي رَمَضَانَ، وَالِاجْتِمَاعِ عَلَى ذَلِكَ، وَعَرْضِ الْقُرْآنِ عَلَى مَنْ هُوَ أَحْفَظُ لَهُ. وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ الْإِكْثَارِ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ.

Tentang mudarasah Nabi dengan Jibril, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 311):

وَفِي حَدِيثِ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنْ أَبِيهَا ﷺ: «أَنَّهُ أَخْبَرَهَا: أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يُعَارِضُهُ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً، وَأَنَّهُ عَارَضَهُ فِي عَامِ وَفَاتِهِ مَرَّتَيْنِ». وَفِي حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ: «أَنَّ الْمُدَارَسَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جِبْرِيلَ كَانَتْ لَيْلًا»

Karena itu, dianjurkan memperbanyak tilawah di malam hari Ramadan, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 312):

فَدَلَّ عَلَى اسْتِحْبَابِ الْإِكْثَارِ مِنَ التِّلَاوَةِ فِي رَمَضَانَ لَيْلًا؛ فَإِنَّ اللَّيْلَ تَنْقَطِعُ فِيهِ الشَّوَاغِلُ، وَتَجْتَمِعُ فِيهِ الْهُمَمُ، وَيَتَوَاطَأُ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَلَى التَّدَبُّرِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا﴾.
"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan lebih lurus bacaannya." (QS. Al-Muzzammil: 6)

6. Bulan Qiyamul Lail

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di Ramadan adalah qiyamul lail atau shalat malam. Para salaf memiliki praktik yang beragam, dari yang sangat panjang hingga yang sedang.

Tentang shalat tarawih di masa Umar bin Khattab, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 337):

وَكَانَ عُمَرُ قَدْ أَمَرَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا بِالنَّاسِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، فَكَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِائَتَيْنِ فِي رَكْعَةٍ، حَتَّى كَانُوا يَعْتَمِدُونَ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَمَا كَانُوا يَنْصَرِفُونَ إِلَّا عِنْدَ الْفَجْرِ.

Di masa tabi'in, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 340):

ثُمَّ كَانَ فِي زَمَنِ التَّابِعِينَ يَقْرَءُونَ بِالْبَقَرَةِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ فِي ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، فَإِنْ قَرَأَ بِهَا فِي اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً رَأَوْا أَنَّهُ قَدْ خَفَّفَ.

Tentang Imam Ahmad, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 343):

وَقَالَ أَحْمَدُ لِبَعْضِ أَصْحَابِهِ، وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ فِي رَمَضَانَ: هَؤُلَاءِ قَوْمٌ ضَعْفَى، اقْرَأْ خَمْسًا، سِتًّا، سَبْعًا. قَالَ: فَقَرَأْتُ فَخَتَمْتُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ.

Tentang keutamaan shalat bersama imam, dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 346):

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَلَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ. فَقَالُوا لَهُ: لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا؟ فَقَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ».

Kesimpulannya?

Jadi, kenapa sih disebut Ramadan?

Secara bahasa, dari akar ramadha yang berarti panas membara. Secara historis, karena bertepatan musim panas saat penamaan. Secara spiritual, karena membakar dosa-dosa. Ada juga yang bilang ini nama Allah, namun pendapat itu ditolak jumhur ulama.

Dan seperti panas yang memurnikan emas, Ramadan memurnikan jiwa. Bahasa Arab itu puitis dan dalam banget ya... Dari satu kata "Ramadan" saja, kita belajar tentang sejarah, musim, panas yang membakar, dosa yang luntur, sampai hubungan rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Keutamaan Ramadan pun luar biasa: bulan diturunkannya Al-Qur'an, bulan penuh ampunan, bulan di mana pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, bulan yang pahala puasanya langsung dijamin Allah, bulan sedekah, serta bulan Al-Qur'an dan qiyamul lail.

Ibnu Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 322) menutup dengan kalimat yang menyentuh:

سَلَامُ اللهِ عَلَى تِلْكَ الْأَرْوَاحِ. رَحْمَةُ اللهِ عَلَى تِلْكَ الْأَشْبَاحِ؛ لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا أَخْبَارٌ وَآثَارٌ.

Semoga kita bisa meneladani semangat mereka, meski tak bisa menyamai derajat mereka.

Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat,
Barakallah Fikum.....