Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah: Kenapa Namanya "Jumada"?
Kalau bulan sebelumnya vibes-nya ceria dan banyak panen, masuk ke Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah ini suasananya berubah jadi lebih "adem", sunyi, bahkan terasa "dingin". Ternyata, makna di balik namanya nyambung banget sama vibes ini.
1. Kenapa Namanya "Jumada"?
Intinya: "Jumada" itu artinya "beku".
Para ulama ngejelasin, nama ini diambil dari kata Jumud (جُمُود) alias beku. Muhammad bin Aydamur dalam ad-Durr al-Farid (7/46) menjelaskan:
Bahkan Ibnu Hajar dalam Hadyu as-Sari (hlm. 99) menambahkan penjelasan senada: "Dinamakan begitu karena kebetulan waktunya jatuh saat puncak musim dingin." Jadi, Jumada ini memang gelar untuk suasana yang dingin dan beku.
Ada juga syair yang dikutip oleh Az-Zauzani dalam Syarh al-Mu‘allaqat as-Sab‘ (hlm. 183) yang memberi gambaran betapa mencekamnya dingin bulan ini:
2. Jumadal Ula, Bulannya Kangen Rumah?
Sebelum pakai nama resmi ini, orang Arab zaman dulu menyebut bulan ini dengan nama yang lebih homey: "Hanin" (حَنِين), yang artinya kerinduan. As-Sahari dalam al-Ibanah (4/754) menerangkan:
Logikanya gini sih: pas dingin-dinginnya, siapa yang nggak kangen suasana rumah yang hangat?
3. Jumadal Akhirah, Bulannya "Baby Domba" Lahir?
Kalau Jumadal Akhirah, nama julukannya unik, apa itu? "Ruba" atau "Rubbah" (رُبًا / رُبَّة), artinya domba betina yang baru melahirkan. As-Sahari melanjutkan:
Jadi ini bulan kelahiran baru: habis fase beku, mulai muncul tanda kehidupan, domba-domba lahir, alam mulai "berbuah" lagi. Sebuah transisi yang indah dari puncak dingin menuju tanda-tanda kesuburan.
Simpulan Ringkas:
· Jumadal Ula = fase bertahan & merindu, saat dingin memuncak.
· Jumadal Akhirah = fase mulai tumbuh & berbuah, hasil dari kesabaran melewati masa sulit.
Dua bulan ini ibarat siklus alam & hati:
Dari beku (Jumud), jadi rindu (Hanin), lalu lahir harapan baru (Ruba).
Wallahu a‘lam.
Semoga bermanfaat,
Barakallah Fikum...

0 Komentar