Setelah melewati Rabiul Awal, sekarang kita masuk ke Rabiul Akhir. Ada beberapa fakta "mahal" dari kitab-kitab klasik yang bikin kita makin paham kalau bulan ini punya identitas yang kuat.
√ Jangan Sebut "Rabiul Tsani", Ya!
Ini koreksi penting dari pakar bahasa Ahmad Mukhtar Umar dalam kitab Akhta’ al-Lughah al-Arabiyyah al-Mu‘ashirah (hlm. 131). Di media atau obrolan sehari-hari, kita sering dengar "Rabiul Tsani" (Rabi Kedua). Padahal, secara kaidah yang benar adalah Rabiul Akhir.
Logikanya begini:
"Kata 'Kedua' (Tsani) digunakan jika ada yang ketiga, keempat, dst. Sedangkan 'Akhir' digunakan jika tidak ada lagi urutan setelahnya."
Karena setelah bulan ini nggak ada "Rabiul Tsalits" (Rabi Ketiga), maka penyebutan yang tepat adalah Akhir. Sama seperti asmaul husna:
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir." (QS. Al-Hadid: 3).
Bukan "Yang Kedua", karena setelah Allah memang tidak ada apa pun lagi.
√ Double Rabi?
Al-Qalqashandi dalam Subhul A‘sya (2/401) menjelaskan kalau mau menyebut dua bulan Rabi ini sekaligus, ada rumus gramatikalnya:
"Dalam bentuk dual (dua), disebut Rabi‘an al-Awwalan (Dua Rabi yang awal)."
Bahkan ada yang menyebutnya Ar-Rabi‘ain. Intinya, bulan Awal dan Akhir ini adalah satu paket "masa tenang" setelah bulan Shafar.
√ Masih Soal Menetap (Irba‘)?
Kenapa namanya tetap Rabi‘? Ibnu ad-Dawadari dalam Kanzud Durar (1/86) menegaskan:
"Adapun Rabiul Awal dan Rabiul Akhir, dinamakan demikian karena mereka menetap/beristirahat (irba‘) di kedua bulan tersebut."
Jadi, Rabiul Akhir adalah masa "perpanjangan" untuk menikmati kedamaian dan hasil usaha sebelum masuk ke bulan-bulan berikutnya.
√ Rabi‘ Bulan vs Rabi‘ Musim?
Nah, ini bagian yang paling seru. Menurut Al-Jauhari yang dikutip dalam Kanzud Durar (1/86), orang Arab membedakan kata "Rabi‘" menjadi dua kategori besar:
A. Rabi‘ asy-Syuhur (Rabi‘ Bulan).
Ini adalah urutan kalender. Terdiri dari dua bulan setelah Safar. Uniknya, untuk kategori ini, orang Arab tidak pernah hanya menyebut "Rabi‘", tapi harus lengkap dengan kata "Syahr" (Bulan).
"Tidak dikatakan pada keduanya kecuali: Bulan Rabiul Awal dan Bulan Rabiul Akhir."
B. Rabi‘ al-Azminah (Rabi‘ Musim).
Kalau ini soal fenomena alam dan perubahan cuaca. Ternyata "musim semi" versi Arab itu dibagi lagi jadi dua fase:
· Rabi‘ al-Kala’ (Musim Rumput/Tumbuhan):
Ini adalah musim semi fase pertama. Cirinya adalah tanah mulai hijau, bunga bermekaran, dan munculnya jamur truffle yang mahal itu (al-kam’ah).
"Yaitu musim di mana jamur truffle bisa didapat dan bunga-bunga mulai bermunculan."
· Rabi‘ al-Thimar (Musim Buah):
Ini fase kedua. Fokusnya bukan lagi di bunga, tapi di buah-buahan yang sudah mulai matang dan siap dipetik.
"Dan musim kedua: Yaitu musim di mana buah-buahan sudah matang."
Jadi, Rabiul Akhir secara semangat adalah masa di mana "bunga" yang bermekaran di Rabiul Awal mulai berubah menjadi "buah" yang bisa dinikmati manfaatnya.
PENUTUP
Kalau Rabiul Awal kita peringati sebagai lahirnya Nabi Muhammad ﷺ (ibarat bunga yang baru mekar dan harum), maka Rabiul Akhir adalah pengingat bagi kita untuk mulai menghasilkan "buah" dari ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Rabiul Akhir adalah momentum untuk istiqamah. Jangan sampai kita hanya semangat memetik "bunga" perayaan di awal, tapi gagal memanen "buah" amal di akhir. Tetaplah pada tuntunan Sang Nabi, jangan berpaling ke jalan yang lain.
Wallahu a‘lam....
Semoga bermanfaat, barakallah fikum....

0 Komentar