Samaa', Sha'iid, dan Maubiq
Fiqh al-Lughah wa Sirr al-'Arabiyyah (1/25) karya Abu Manshur ats-Tsa'labi menulis tiga kalimat pendek.
Kita biasanya mengartikan Samaa' ya "langit". Sha'iid ya "tanah buat tayamum". Maubiq… bahkan jarang kita dengar.
Ternyata maknanya jauh lebih luas.
As-Samaa' (السَّمَاءُ)
Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (3/98) bilang, akar katanya adalah س م و:
Jadi, Samaa' itu apa pun yang tinggi dan menaungi. Langit berbintang, ya. Awan, ya. Hujan—karena turun dari atas, orang Arab menyebutnya Samaa' juga. Atap rumah? Termasuk. Punggung kuda? Termasuk. Tanaman yang menaungi tanah? Juga.
Bahkan kata isim (nama) berasal dari akar yang sama. Karena nama "meninggikan" sesuatu dari tidak dikenal menjadi dikenal.
Ash-Sha'iid (الصَّعِيدُ)
Akar katanya ص ع د. Kata Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (3/287):
Tapi justru Sha'iid artinya permukaan bumi yang datar. Abu Ishaq az-Zajjaj memperjelas:
Di Al-Qur'an, kalau air tidak ada, kita disuruh tayamum pakai Sha'iid:
Kenapa? Karena dari Sha'iid inilah Adam diciptakan. Ke sanalah kita kembali. Dan dari sana kita dibangkitkan lagi:
Al-Maubiq (الْمَوْبِقُ)
Akar katanya و ب ق. Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (6/82) menjelaskan:
Di Al-Qur'an, Maubiq adalah dinding pemisah antara penghuni surga dan neraka:
Pemisah yang menyelamatkan sebagian, mencelakakan sebagian yang lain.
Nabi SAW juga menyebut dosa-dosa besar sebagai al-muubiqaad (dosa-dosa yang membinasakan):
Kenapa disebut muubiqaad? Karena dosa jadi pembatas antara kita dan rahmat Allah.
Jadi, apa kesimpulannya?
Tiga kata ini membentuk semacam "koordinat hidup" yang selalu kita alami sehari-hari:
As-Samaa': apa pun yang di atas, yang menaungi. Tempat kita mendongak, berharap, dan bergantung.
Ash-Sha'iid: apa pun yang di bawah, tempat kita berpijak. Asal kita, realitas hidup kita, dan tempat kita akan kembali.
Al-Maubiq: apa pun yang di antara, yang membatasi. Bisa jadi penyelamat kalau kita tahu mana yang harus dipisah. Bisa jadi kebinasaan kalau kita melanggarnya.

0 Komentar