Al-Ka'bah, Ash-Sharh, dan Ad-Daabbah

Fiqh al-Lughah karya Abu Manshur ats-Tsa'labi menulis tiga kalimat pendek.

كُلُّ بِنَاءٍ مُرَبَّعٍ فَهُوَ كَعْبَة
كُلُّ بِنَاءٍ عَالٍ فَهُوَ صَرْحٌ
كُلُّ شَيْءٍ دَبَّ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ فَهُوَ دَابَّةٌ
Fiqh al-Lughah karya Abu Manshur ats-Tsa'labi
Artinya: "Setiap bangunan persegi empat, itulah Ka'bah. Setiap bangunan tinggi, itulah Sharh. Setiap sesuatu yang merayap di muka bumi, itulah Daabbah."

Kita biasanya mengartikan Ka'bah ya "Baitullah di Makkah". Sharh… jarang dipakai. Daabbah ya "binatang melata" atau "hewan tunggangan".

Ternyata maknanya jauh lebih luas.


Al-Ka'bah (الْكَعْبَةُ)

Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (5/186) bilang, akar katanya adalah ك ع ب:

الْكَافُ وَالْعَيْنُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى نُتُوٍّ وَارْتِفَاعٍ فِي الشَّيْءِ
Maqayis al-Lughah (5/186)
Artinya: pokok maknanya adalah "tonjolan dan ketinggian pada sesuatu".

Ibnu Faris menegaskan:

وَالْكَعْبَةُ: بَيْتُ اللَّهِ تَعَالَى، يُقَالُ سُمِّيَ لِنُتُوِّهِ وَتَرْبِيعِهِ
"Al-Ka'bah adalah Baitullah. Dikatakan dinamai demikian karena tonjolannya dan bentuk perseginya."

Ash-Sharh (الصَّرْحُ)

Akar katanya ص ر ح. Kata Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (3/347-348):

الصَّادُ وَالرَّاءُ وَالْحَاءُ أَصْلٌ مُنْقَاسٌ، يَدُلُّ عَلَى ظُهُورِ الشَّيْءِ وَبُرُوزِهِ
Maqayis al-Lughah (3/347-348)
Artinya: akar ini menunjukkan "munculnya sesuatu dan menonjolnya".

Dalam Al-Qur'an, Fir'aun pernah berkata:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ
"Fir'aun berkata: Wahai Haman, bangunkan untukku Sharh (bangunan tinggi) agar aku bisa sampai ke pintu-pintu langit." (QS. Ghafir: 36)

Fir'aun ingin membangun Sharh (menara tinggi) supaya dia bisa "naik" dan melihat Tuhan.


Ad-Daabbah (الدَّابَّةُ)

Akar katanya د ب ب. Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (2/263) menjelaskan:

الدَّالُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ حَرَكَةٌ عَلَى الْأَرْضِ أَخَفُّ مِنَ الْمَشْيِ. وَكُلُّ مَا مَشَى عَلَى الْأَرْضِ فَهُوَ دَابَّةٌ
Maqayis al-Lughah (2/263)
"Huruf Dal dan Ba' adalah satu akar, yaitu gerakan di atas bumi yang lebih ringan dari berjalan biasa. Dan setiap yang berjalan di atas bumi adalah Daabbah."

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada satu Daabbah pun di bumi, melainkan Allah yang menanggung rezekinya." (QS. Hud: 6)

Ayat ini mencakup semua: semut, kucing, burung… dan kamu. Kamu juga Daabbah. Rezeki kamu juga Allah yang tanggung.

Bahkan lebih "keras" lagi:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya seburuk-buruk Dawaabb (makhluk melata) di sisi Allah adalah mereka yang tuli, bisu, dan tidak menggunakan akalnya." (QS. Al-Anfal: 22)

Di sini Allah menyebut manusia yang tidak mau dengar kebenaran, tidak mau bicara jujur, dan tidak mau mikir… sebagai seburuk-buruk Daabbah.


Jadi, apa kesimpulannya?

Tiga kata ini mengajak kita melihat sekitar dengan cara baru:

Al-Ka'bah : apa pun yang berbentuk persegi dan menonjol.

Ash-Sharh : apa pun yang tinggi dan mencolok.

Ad-Daabbah : siapa pun yang berjalan di atas bumi. Kamu, semut, kucing, semua sama.