Al-Ghaib, Al-'Aurah, dan Al-'Iir

Fiqh al-Lughah karya Abu Manshur ats-Tsa'labi menulis tiga kalimat pendek.

كُلُّ مَا غَابَ عَنِ الْعُيُونِ وَكَانَ مُحَصَّلًا فِي الْقُلُوبِ فَهُوَ غَيْبٌ
كُلُّ مَا يُسْتَحْيَا مِنْ كَشْفِهِ مِنْ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَهُوَ عَوْرَةٌ
كُلُّ مَا أُمْتِيرَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِبِلِ وَالْخَيْلِ وَالْحَمِيرِ فَهُوَ عِيرٌ
Fiqh al-Lughah karya Abu Manshur ats-Tsa'labi
Artinya: "Setiap yang tidak terlihat oleh mata, namun tetap tersimpan dalam kesadaran, itulah Ghaib. Setiap yang membuat malu jika disingkap dari anggota tubuh manusia, itulah 'Aurah. Setiap hewan yang dipakai untuk mengangkut barang, unta, kuda, dan keledai, itulah 'Iir."

Kita biasanya mengartikan Ghaib ya "hal mistis" atau "tidak ada". 'Aurah ya "bagian tubuh yang harus ditutup". 'Iir… bahkan jarang kita dengar.

Ternyata maknanya jauh lebih luas.


Al-Ghaib (الْغَيْبُ)

Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (4/403) bilang, akar katanya adalah غ ي ب:

الْغَيْنُ وَالْيَاءُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى تَسَتُّرِ الشَّيْءِ عَنِ الْعُيُونِ، ثُمَّ يُقَاسُ
Maqayis al-Lughah (4/403)
Artinya: pokok maknanya adalah "tersembunyinya sesuatu dari pandangan mata, lalu dari situ dianalogikan".

Allah memuji orang-orang bertakwa:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
"Mereka yang beriman kepada Al-Ghaib." (QS. Al-Baqarah: 3)

Al-Ghaib di sini adalah segala yang tidak terlihat oleh indra, namun diimani keberadaannya.

Allah juga menyebut diri-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
"Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang tampak." (QS. Al-An'am: 73)

Hanya Allah yang tahu Ghaib secara mutlak. Dukun, tukang ramal, "orang pintar"… mereka hanya menduga-duga. Atau lebih buruk: berbohong.

Menariknya, kata ghaaba juga dipakai untuk matahari yang tenggelam: ghaabat asy-syams: matahari "menghilang".


Al-'Aurah (الْعَوْرَةُ)

Akar katanya ع و ر. Kata Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (4/184-186):

الْعَيْنُ وَالْوَاوُ وَالرَّاءُ أَصْلَانِ: أَحَدُهُمَا يَدُلُّ عَلَى تَدَاوُلِ الشَّيْءِ، وَالْآخَرُ يَدُلُّ عَلَى مَرَضٍ فِي إِحْدَى عَيْنَيِ الْإِنْسَانِ... وَمَعْنَاهُ الْخُلُوُّ مِنَ النَّظَرِ
Maqayis al-Lughah (4/184-186)
"Huruf 'Ain, Waw, dan Ra' memiliki dua akar makna. Pertama: saling bergantian. Kedua: penyakit pada salah satu mata… yang artinya kosong dari penglihatan."

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman tentang kaum munafikin:

يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ
"Mereka berkata: Rumah-rumah kami 'Aurah (rawan/terbuka). Padahal rumah-rumah itu bukan 'Aurah." (QS. Al-Ahzab: 13)

Di sini, 'Aurah berarti rumah yang tidak aman, mudah diserang, punya celah.


Al-'Iir (الْعِيرُ)

Akar katanya ع ي ر. Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (4/191-192) menjelaskan:

الْعَيْنُ وَالْيَاءُ وَالرَّاءُ أَصْلَانِ صَحِيحَانِ، يَدُلُّ أَحَدُهُمَا عَلَى نُتُوِّ الشَّيْءِ وَارْتِفَاعِهِ، وَالْآخَرُ عَلَى مَجِيءٍ وَذَهَابٍ
Maqayis al-Lughah (4/191-192)
"Huruf 'Ain, Ya', dan Ra' memiliki dua akar sahih. Pertama: tonjolan dan ketinggian sesuatu. Kedua: datang dan pergi (bergerak bolak-balik)."

'Iir muncul dalam kisah Nabi Yusuf. Waktu beliau kecil, ada musafir yang menemukannya di sumur:

وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ
"Dan datanglah sekelompok musafir, lalu mereka mengutus pengambil air, maka dia menurunkan timbanya. Dia berkata: Oh, kabar gembira! Ini seorang anak muda!" (QS. Yusuf: 19)

Para musafir ini datang bersama 'Iir (kafilah dagang) yang melintas. Mereka berhenti di sumur, dan menemukan Yusuf kecil.

Lalu di akhir kisah, ketika kafilah itu berangkat membawa baju Yusuf:

وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ
"Dan tatkala Al-'Iir (kafilah dagang) itu berangkat, ayah mereka (Ya'qub) berkata: Sungguh aku mencium bau Yusuf." (QS. Yusuf: 94)

'Iir di sini adalah rombongan unta pembawa barang yang berangkat dari Mesir menuju Kana'an. Mereka bergerak, datang dan pergi, membawa rezeki dari satu negeri ke negeri lain.


Jadi, apa kesimpulannya?

Tiga kata ini mengajarkan kita tentang tiga realitas yang selalu hadir dalam hidup:

Al-Ghaib : l-'Aurah : Al-'Iir : yang tidak terlihat, namun tetap ada. Allah, malaikat, takdir, isi hati, semuanya Ghaib.

AAl-Ghaib : l-'Aurah : Al-'Iir : yang lemah, terbuka, dan perlu dilindungi.

Al-Ghaib : l-'Aurah : Al-'Iir : yang bergerak bolak-balik membawa rezeki. Dulu unta dan kuda, sekarang truk dan kontainer. Esensinya sama: rombongan yang terus berjalan, datang dan pergi.