Kenapa Bulan Shafar Disebut صَفَر?

Kenapa Sih Namanya Shafar?

Pernah kepikiran nggak sih, kenapa bulan kedua Hijriah itu dinamai Shafar?

Nama ini sebenarnya ada cerita tentang warna kuning-gelap, bejana kosong, rumah yang ditinggal merantau, sampai mitos "ular perut" zaman Jahiliyah.

Gimana, penasaran?
Yuk, kita bedah pelan-pelan!

1. Arti Secara Bahasa?

Akar kata ص ف ر itu unik karena punya dua "rasa" makna: Kuning dan Kosong. Keduanya ternyata saling nyambung, lho. Menurut Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Al-Mufradat (1/487):

Warna Kuning yang "Deep"

الصُّفْرَةُ: لونٌ بين السّواد والبياض وهي إلى السّواد أقرب
"Shufrah itu warna di antara hitam dan putih, ada lebih condongnya ke arah hitam."

Makanya, pas Allah nyebut بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا (Sapi betina kuning tua yang cemerlang), ulama kayak al-Hasan menafsirkannya sebagai warna yang pekat banget.

Dari Kuning ke Kosong

Bayangin rumput yang kering-kerontang, warnanya pasti kuning, kan? Nah, bejana yang kosong melompong sampai kalau dipukul bunyinya "siing" juga disebut shafira al-ina'.

Kata Ar-Raghib:

صَفِرَ الإناءُ: إذا خلا حتى يسمع منه صفير
"Bejana disebut shafira kalau isinya kosong sampai terdengar bunyinya."

Singkatnya: Makna intinya adalah sesuatu yang hampa, kosong, atau nggak ada isinya.

2. Terus, Kenapa Bulannya Dinamai Safar?

Para ahli bahasa punya beberapa versi menarik kenapa bulan ini disebut Safar. Semuanya balik lagi ke tema "kuning" dan "kosong" tadi:

A. Rumah-Rumah Mendadak Sepi (Versi Paling Populer).

Setelah bulan haram (Muharram) selesai, orang Arab zaman dulu langsung tancap gas keluar rumah buat dagang, merantau, atau perang. Efeknya? Rumah mereka jadi kosong melompong.

Kata Al-Jawaliqi dalam Syarh Adab al-Katib (1/140):

فصفرت بيوتهم من الرجال والخير
"Rumah-rumah mereka jadi kosong dari laki-laki dan harta benda."

B. Musim "Grosir" ke Negeri al-Shufriyyah

Ada juga versi dari Ibn Al-Anbari dalam Az-Zahir (2/355) yang bilang mereka pergi ke tempat jauh buat cari logistik:

سمي صفرًا لخروجهم إلى بلاد يقال لها الصفرية يمتارون منها
"Dinamai Safar karena mereka keluar ke negeri bernama al-Shufriyyah untuk ambil bahan makanan."

C. Alam Lagi Menguning

Versi Al-Shahhari dalam Al-Ibanah (4/751) lebih ke fenomena alam:

سمي صفرًا لأنه كانت تصفر فيه الأشجار
"Dinamakan Safar karena pohon-pohon pada menguning waktu itu."

D. Musim Haus yang Menyengat

Dulu Safar juga disebut Najir karena cuaca panas banget yang bikin haus luar biasa. (Al-Shahhari, Al-Ibanah, 4/754)

نجرت الإبل: عطشت
"Unta itu najrat, artinya sangat kehausan." (Lagi-lagi nyambung ke tema kering dan kosong).

3. Cerita di Balik Kalender yang Sempat "Diacak-acak"

Ada satu lapisan penting yang bikin nama Shafar makin masuk akal, tapi sering luput dibahas: hubungannya dengan haji dan kalender Jahiliyah. Dalam literatur Arab klasik yang dikutip Badruddin Al-'Aini dalam 'Umdatul Qari (9/200), disebutkan bahwa orang Arab dahulu mengenal dua Shafar:

الصَّفَرَانِ شَهْرَانِ مِنَ السَّنَةِ، سُمِّيَ أَحَدُهُمَا فِي الإِسْلَامِ: الْمُحَرَّمُ
"Dua Shafar adalah dua bulan dalam setahun; salah satunya kemudian dinamai Muharram di masa Islam."

Dulu ada praktik namanya an-nasi', semacam "permainan" durasi waktu agar bulan-bulan suci (yang dilarang berperang) bisa digeser sesuai kepentingan. Bahkan, mereka pernah menambah jumlah bulan dalam setahun (Al-'Aini, 'Umdatul Qari, 9/200):

إِنَّ الْعَرَبَ كَانُوا يَزِيدُونَ فِي كُلِّ أَرْبَعِ سِنِينَ شَهْرًا يُسَمُّونَهُ صَفَرًا الثَّانِي، فَتَكُونُ السَّنَةُ ثَلَاثَةَ عَشَرَ شَهْرًا
"Sesungguhnya orang Arab dahulu menambah satu bulan setiap empat tahun yang mereka sebut Shafar Kedua, sehingga setahun menjadi tiga belas bulan."

Karena kekacauan inilah, Nabi SAW menegaskan kembali aturan alam bahwa setahun itu tetap dua belas bulan: السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا.

Shafar juga menjadi fase "penyembuhan" setelah perjalanan panjang haji. Bukan cuma orangnya yang lelah, tunggangannya juga. Luka di punggung unta akibat beban berat, yang dalam istilah Arab disebut dabr, memerlukan waktu untuk sembuh total (Al-'Aini, 'Umdatul Qari, 9/200):

إِنَّ الْبُرْءَ لَا يَحْصُلُ مِنْ أَثَرِ السَّفَرِ إِلَّا فِي هَذِهِ الْمُدَّةِ
"Sesungguhnya kesembuhan dari dampak perjalanan (haji) itu tidak terjadi melainkan pada durasi waktu ini (Shafar)."
وَهُوَ مَا يَتَأَثَّرُ فِي ظَهْرِ الْإِبِلِ بِسَبَبِ اصْطِكَاكِ الْقَتَبِ وَالْحَمْلِ فِي السَّفَرِ
"Yaitu bekas pada punggung unta akibat gesekan pelana dan beban selama perjalanan."

4. Mitos "Ular Perut" & Hadis Nabi

Nah, ini yang paling penting! Orang zaman dulu punya ketakutan salah soal Shafar. Mereka pikir lapar atau sakit perut itu karena ada ular bernama al-Safar yang gigit lambung, atau menganggap Shafar itu bulan sial.

Nabi Muhammad SAW langsung tegas membantah itu semua:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
"Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah), tidak ada ramalan sial (tathayyur), tidak ada (burung hantu pembawa ruh), dan tidak ada Shafar (mitos ular perut/bulan sial)."

Kesimpulannya...?

Safar itu ibarat potret suasana: Rumah kosong, bejana kosong, perut lapar, dan alam yang menguning kering. Semua makna itu ngumpul di satu kata: Sh-f-r.

Menarik banget ya, satu nama bulan saja bisa menggambarkan kondisi sosial dan alam sekaligus. Dan yang paling penting, Nabi ngajarin kita buat nggak takut sama bulan tertentu.
Seperti kata Nabi SAW:

وَلاَ صَفَرَ
"...dan tidak ada (kesialan di bulan) Shafar."

Kamu tahu? Yang bikin sial itu bukan soal bulannya, kitanya saja yang menjauh atau bahkan dijauhkan dari petunjuk-Nya.

والله أعلمُ بالصواب…

Semoga bermanfaat dan bikin kita makin semangat belajar literatur Arab!
Barakallah fikum.

Posting Komentar

0 Komentar