Kenapa Sih Bumi Disebut "Al-Ardh"?
Pernah kepikiran nggak, kenapa bumi dalam bahasa Arab disebut al-ardh (الأرض)? Ternyata di balik nama ini ada filosofi yang super dalem banget, mulai dari sifat rendah, luas, sampai subur. Bahkan maknanya merembet ke karakter manusia dan penyakit! Para ulama klasik udah ngebahas tuntas soal ini.
Yuk, kita kulik satu per satu!
Pertama: Bumi Itu Rendah, Lawannya Langit
Kalau ngomongin al-ardh, Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah (1/80) langsung nancepin makna dasarnya:
وَأَمَّا الْأَصْلُ الْأَوَّلُ فَكُلُّ شَيْءٍ يَسْفُلُ وَيُقَابِلُ السَّمَاءَBeliau langsung kasih contoh dari tubuh kuda:
يُقَالُ لِأَعْلَى الْفَرَسِ سَمَاءٌ وَلِقَوَائِمِهِ أَرْضٌIni prinsip dasar yang disepakati para ahli bahasa. Al-Judzami dalam al-Intikhab (2/389) menegaskan lagi:
إِنَّمَا سُمِّيَتْ أَرْضًا لِأَنَّهَا تَلِي الْأَرْضَ، أَلَا تَرَى أَنَّهُ سَمَّى أَعْلَى الْفَرَسِ سَمَاءً لِعُلُوِّهِ فَكَذَلِكَ سَمَّى قَوَائِمَهُ أَرْضًا لِسُفُولِهَاAt-Tuwaijiri dalam ash-Shawa'iq asy-Syadidah (1/116) mengutip Ibnul Jauzi:
إِنَّمَا سُمِّيَتِ الْأَرْضُ أَرْضًا لِسَعَتِهَا. وَقِيلَ لِانْحِطَاطِهَا عَنِ السَّمَاءِLalu beliau simpulkan prinsipnya:
وَكُلُّ مَا سَفَلَ فَهُوَ أَرْضٌKedua: Telapak Kaki Juga Disebut Ardh
Dari prinsip "rendah" ini, Ibnu Faris (1/80) juga nyebutin kalau telapak kaki manusia juga disebut ardh, karena telapak kaki itu posisinya paling bawah. At-Tha'labi dalam tafsirnya (28/385) mengutip pendapat Mujahid dan Al-Khalil bin Ahmad:
وَقِيلَ: سُمِّيَتِ الْأَرْضُ حَافِرَةً؛ لِأَنَّهَا مُسْتَقَرُّ الْحَوَافِرِ، كَمَا سُمِّيَ الْقَدَمُ أَرْضًا؛ لِأَنَّهَا عَلَى الْأَرْضِAhmad Mukhtar Umar dalam Mu'jam al-Lughah al-'Arabiyyah al-Mu'ashirah (1/84) mendefinisikan secara ringkas:
أَرْضٌ: مَا اسْتَقَرَّتْ عَلَيْهِ الْقَدَمُ، مُقَابِلُ السَّمَاءِTernyata mah, bumi dan telapak kaki itu "sepanggung": sama-sama tempat berpijak dan posisinya di bawah. Keren ya, satu kata bisa nyambungin langit, kuda, dan telapak kaki manusia!
Ketiga: Bumi Itu Luas Banget
Selain rendah, para ulama juga sepakat kalau ardh itu artinya luas. Ibnul Jauzi dalam Nuzhah al-A'yun an-Nawazhir (1/167) bilang:
الْأَرْضُ مَعْرُوفَةٌ، وَسُمِّيَتْ أَرْضًا لِسَعَتِهَاAl-Khalil bin Ahmad dalam al-'Ain (5/151) juga nyinggung soal tanah luas yang kosong:
الْأَرْضُ مِنَ الْكَلَإِ، وَالدَّارُ مِنْ أَهْلِهَا فَهِيَ قَفْرٌ وَقِفَارٌTanah kosong yang luas ini jadi bagian dari makna ardh. Jadi bumi itu rendah dan juga luas membentang. Dua sifat ini nempel banget sama bumi yang kita pijak.
Keempat: Bumi yang Subur Menginspirasi Karakter Manusia
Ternyata dari kata ardh lahir kata aridhah yang artinya tanah subur. Ibnu Faris (1/80) menjelaskan:
أَرْضٌ أَرِيضَةٌ، وَذَلِكَ إِذَا كَانَتْ لَيِّنَةً طَيِّبَةًTanah yang lunak, gembur, dan siap ditanami disebut ardhah aridhah. Nah, dari sini para ulama bikin analogi keren: kalau tanah subur siap ditanami, maka manusia yang punya bakat baik juga disebut aridh. Ibnu Faris (1/80) melanjutkan:
وَمِنْهُ رَجُلٌ أَرِيضٌ لِلْخَيْرِ، أَيْ خَلِيقٌ لَهُ، شُبِّهَ بِالْأَرْضِ الْأَرِيضَةِIbnu Faris (1/80) juga mencatat:
تَأَرَّضَ النَّبْتُ إِذَا أَمْكَنَ أَنْ يُجَزَّIni masih nyambung sama makna "siap" dan "matang" dari akar kata ardh. Semua berawal dari tanah yang siap memberi hasil.
Kelima: Makna Lain yang Mengejutkan
Akar kata ardh juga dipakai buat hal-hal yang nggak terduga. Ibnu Faris (1/79-80) menyebutkan dua makna lain:
Penyakit Pilek:
رَجُلٌ مَأْرُوضٌ أَيْ مَزْكُومٌPenyakit Gemetar:
يُقَالُ بِفُلَانٍ أَرْضٌ أَيْ رِعْدَةٌIni menunjukkan betapa kayanya bahasa Arab. Satu akar kata bisa berarti tanah, rendah, luas, subur, telapak kaki, bahkan penyakit. Semua tersambung dalam jalinan makna yang logis.
Kesimpulan
Jadi, kenapa bumi disebut al-ardh?
- Karena rendah, prinsip dasarnya: semua yang rendah dan berlawanan dengan langit. Kaki kuda, telapak kaki manusia, semuanya disebut ardh.
- Karena luas, Ibnul Jauzi dan Al-Khalil sepakat, ardh dari sa'ah (keluasan). Tanah kosong nan luas juga bagian dari makna ini.
- Karena subur, dari ardh lahir aridhah: tanah lunak yang siap ditanami. Dari sini lahir kiasan buat manusia: rajulun aridh lil khair, orang yang berbakat baik, siap "ditanami" ilmu dan kebaikan.
Al-Qur'an juga menyebut bumi sebagai hamparan:
﴿الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا﴾Bumi itu rendah, luas, dan subur. Manusia yang baik adalah yang rendah hati, luas wawasan, dan siap "ditumbuhi" kebaikan. Keren banget kan, satu kata bisa menyimpan lautan makna yang nyambung ke mana-mana!
Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat,
Barakallah Fikum.....

0 Komentar