Pernah kepikiran nggak, kenapa kegelapan setelah matahari terbenam dinamakan Al-Layl? Ada cerita unik di balik penamaan ini, yang dicatat dalam kitab Kharidah al-’Aja’ib wa Faridah al-Ghara’ib.

Wait, kitab apa itu?

Kitab ini semacam ensiklopedia keajaiban dunia klasik yang ditulis oleh Ibnu al-Wardi (wafat sekitar tahun 1300-an M). Di dalamnya, ada dialog filosofis antara Nabi SAW dan Abdullah bin Salam yang mengungkap "ruh" dari setiap ciptaan.

Dalam riwayat itu, alasan di balik nama Al-Layl ternyata sangat dekat dengan sisi personal manusia:

لِأَنَّهُ مَنَالُ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ، جَعَلَهُ اللهُ أُلْفَةً وَسَكَنًا وَلِبَاسًا
"Karena malam itu adalah momen 'sampainya' laki-laki kepada perempuan (pasangannya); Allah menjadikan malam sebagai 'ruang' pengikat rasa, ketenangan, dan pakaian yang menjaga."

Jadi bisa dibayangkan, malam disebut Layl karena fungsinya sebagai:

  • 1. Waktu Intim (Manal): Momen hangat dan eksklusif buat pasangan tanpa gangguan.
  • 2. Tombol Pause (Sakan): Waktu di mana tubuh dan pikiran bisa "pulang" mencari ketenangan.
  • 3. Jaket Pelindung (Libas): Kegelapan malam menjaga privasi layaknya pakaian yang menutupi.

Lanjut, yuk!

Penasaran nggak apa sih makna Lail (malam) kalau dibedah pakai Tafsir Imam Al-Qurtubi? Dan kenapa Al-Qur'an sering banget menyebut "Malam" duluan sebelum "Siang"? Ada jawabannya di kitab tafsir!


Catatan:
Riwayat ini dinukil apa adanya dari خريدة العجائب وفريدة الغرائب (1/401). Kitab ini bukan kitab hadis dan tidak disusun dengan standar penilaian sanad. Karena itu, teks ini disampaikan sebagai kutipan literatur klasik, bukan dalil akidah atau hukum.


Apa sih makna Layl?

Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya ngajak kita melihat malam dan siang nggak cuma sebagai fenomena alam, tapi juga dari definisi kebahasaan (lughah) sampai ke efek hukumnya. Yuk, kita bedah:

1. Definisi Kebahasaan

Al-Qurtubi mengutip beberapa pakar bahasa untuk mendefinisikan An-Nahar (siang), karena biasanya malam didefinisikan sebagai lawannya.

Definisi Umum:

Ibnu Faris menjelaskan:

النَّهَارُ: ضِيَاءُ مَا بَيْنَ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ
“An-Nahar (siang) adalah cahaya yang berada di antara terbit fajar hingga terbenam matahari.”
(Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, 2/192)

2. Debat "Garis Start" Siang

Nah, ini bagian yang seru. Para ahli bahasa ternyata beda pendapat soal kapan sih sebenarnya siang dimulai.

A. Tim Matahari Terbit (An-Nadr bin Shumail & Az-Zajjaj)

Mereka berpendapat siang baru sah dihitung kalau matahari sudah benar-benar muncul (dhurur asy-syams).

An-Nadr bin Shumail menegaskan:

أَوَّلُ النَّهَارِ طُلُوعُ الشَّمْسِ، وَلَا يُعَدُّ مَا قَبْلَ ذَلِكَ مِنَ النَّهَارِ
“Awal siang itu terbitnya matahari, dan tidak dihitung apa yang sebelum itu sebagai siang.”

Argumen ini bahkan dikuatkan dengan syair Umayyah bin Abi ash-Shalt:

وَالشَّمْسُ تَطْلُعُ كُلَّ آخِرِ لَيْلَةٍ ... حَمْرَاءَ يُصْبِحُ لَوْنُهَا يَتَوَرَّدُ
“Dan matahari terbit setiap akhir malam, merah yang kemudian warnanya menjadi merah muda (keemasan).”
(Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, 2/193)

B. Tim Pembagian Tiga Zona Waktu (Ibnul Anbari)

Biar lebih adil, Ibnul Anbari membagi waktu jadi tiga zona:

  • · Malam Murni: Dari terbenam matahari hingga terbit fajar.
  • · Siang Murni: Dari terbit matahari hingga terbenamnya.
  • · Waktu Mix (Musytarak): Antara terbit fajar hingga terbit matahari, karena masih ada sisa gelap malam dan permulaan cahaya siang.
وَقَسَّمَ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ الزَّمَنَ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ... وَقِسْمًا جَعَلَهُ مُشْتَرِكًا بَيْنَ النَّهَارِ وَاللَّيْلِ
(Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, 2/194)

3. Keputusan Final (The Verdict) Berdasarkan Hadis

Imam Al-Qurtubi akhirnya menegaskan kalau pendapat yang paling benar adalah: siang dimulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam. (Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, 2/194)

Beliau menyatakan:

قُلْتُ: وَالصَّحِيحُ أَنَّ النَّهَارَ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ
“Aku (Al-Qurtubi) berkata: Yang benar adalah bahwa siang itu dari terbit fajar hingga terbenam matahari.”

Penentunya bukan cuma logika, tapi hadis dalam Shahih Muslim dari ‘Adi bin Hatim R.A. saat Rasulullah SAW menjelaskan makna “benang putih” dan “benang hitam”:

«إِنَّمَا هُوَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ»
“Sesungguhnya yang dimaksud itu hanyalah kegelapan malam dan putihnya siang.”

Bagi Al-Qurtubi, hadis ini adalah pemutus perkara (al-faysal):

فَهَذَا الْحَدِيثُ يَقْضِي أَنَّ النَّهَارَ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ... وَقَوْلُ النَّبِيِّ ﷺ هُوَ الْفَيْصَلُ
“Maka hadis ini memutuskan bahwa siang itu dari terbit fajar hingga terbenam matahari… dan perkataan Nabi ﷺ adalah pemutus dalam hal itu.”

4. Kenapa Ini Penting?

Definisi ini punya dampak besar, terutama dalam masalah sumpah (aiman). Al-Qurtubi memberikan contoh yang simpel banget:

فَمَنْ حَلَفَ أَلَّا يُكَلِّمَ فُلَانًا نَهَارًا فَكَلَّمَهُ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ حَنِثَ
“Barangsiapa bersumpah tidak akan berbicara dengan si fulan di siang hari, lalu berbicara dengannya sebelum terbit matahari, maka ia telah melanggar sumpah (hanits).”
(Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, 2/194)

Contoh Kasus:

Kalau ada orang bersumpah, “Aku nggak mau ngomong sama kamu di waktu SIANG,” lalu dia ngajak ngobrol setelah Subuh (sebelum matahari terbit), menurut Al-Qurtubi dia sudah melanggar sumpah. Kenapa? Karena secara hukum syariat, fajar sudah masuk hitungan siang.

Kupasan ini menunjukkan betapa pentingnya ketelitian dalam memahami bahasa Al-Qur'an. Semuanya saling terkait, dan rujukan akhirnya tetap pada sabda Nabi Muhammad SAW sebagai penjelas utama.


Kenapa Al-Qur'an Sering Menyebut "Malam" Duluan Sebelum "Siang"?

Ini persis dengan pertanyaan yang pernah diajukan ke Imam Ar-Razi di kitab Tafsir al-Kabir. Beliau membahas kenapa di Surah Al-Lail, malam disebut duluan, sementara di Surah Ad-Duha justru waktu siang yang jadi pembuka.
Nah, ini alasan kenapa malam didahulukan: (Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, 31/190)

1. Karena Malam Itu "Senior"

Secara urutan penciptaan, gelap ada duluan sebelum ada cahaya. Imam Ar-Razi bilang malam punya fadhilah al-sabq (keutamaan karena muncul duluan). Beliau mengutip ayat:

«وَجَعَلَ الظُّلُماتِ وَالنُّورَ»

Artinya, Allah memang sering menyebut "Kegelapan" dulu baru "Cahaya". Jadi secara natural, malam memang ditaruh di depan.

2. Dunia Dulu, Baru Akhirat

Imam Ar-Razi bikin perumpamaan yang cakep banget:

«اللَّيْلُ كَالدُّنْيَا وَالنَّهَارُ كَالْآخِرَةِ»
"Malam itu ibarat dunia, dan siang itu ibarat akhirat."

Karena kita hidup di dunia dulu baru pindah ke akhirat, ya logis kalau malam (dunia) disebut duluan sebagai pembuka perjalanan.

3. Simbol Perjalanan Spiritual Abu Bakar

Ini alasan yang paling "kena". Surah Al-Lail identik dengan Sayyidina Abu Bakar. Ar-Razi menjelaskan:

«قَدَّمَ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ فِي سُورَةِ أَبِي بَكْرٍ لِأَنَّ أَبَا بَكْرٍ سَبَقَهُ كُفْرٌ»
"Allah mendahulukan malam di surahnya Abu Bakar karena beliau pernah melewati masa kafir dulu (sebelum masuk Islam)."

Jadi, malam di sini simbol masa lalu yang gelap sebelum akhirnya ketemu cahaya iman (siang). Beda sama Nabi Muhammad yang di Surah Ad-Duha langsung disebut siangnya, karena beliau dari awal memang sudah suci tanpa noda.

Tapi, Apa Ada yang Lebih Utama?

Menariknya, Imam Ar-Razi menegaskan bahwa meskipun urutannya dibolak-balik, sebenarnya nggak ada perbedaan masalah keutamaan antara keduanya. Allah sengaja menukar urutannya bukan buat "pilih kasih", tapi karena masing-masing punya value yang unik.

Beliau menjelaskan:

«فَلَمَّا كَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ فَضِيلَةٌ لَيْسَتْ لِلْآخَرِ، لَا جَرَمَ قُدِّمَ هَذَا عَلَى ذَاكَ تَارَةً وَذَاكَ عَلَى هَذَا أُخْرَى»
"Karena masing-masing (malam dan siang) punya keutamaan yang tidak dimiliki yang lain, maka tidak heran kalau kadang ini didahulukan atas itu, dan di lain waktu yang itu didahulukan atas ini."

Intinya:

  • · Malam punya keutamaan "Senioritas" (ada duluan).
  • · Siang punya keutamaan "Cahaya" (terang benderang).

Sama kayak rukuk dan sujud. Di satu ayat sujud disebut duluan («وَاسْجُدِي وَارْكَعِي»), di ayat lain rukuk yang duluan («ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا»). Ini cara Allah ngasih tahu kalau semuanya penting dan punya perannya masing-masing.


Ini makin menarik kalau disambungkan ke penjelasan Syeikh Ismail Haqqi dalam Ruhul Bayan (4/422). Kalau tadi Ar-Razi fokus ke sisi historis, Ismail Haqqi membawa ke dimensi yang lebih "dalam" (tasawuf) soal perdebatan mana yang lebih afdal antara malam dan siang.

Syeikh Ismail Haqqi dalam Ruhul Bayan bercerita kalau para ulama sebenarnya beda pendapat soal mana yang lebih mulia.

1. Alasan Kenapa Malam Bisa Lebih Afdal

Beberapa ulama, termasuk Imam An-Naisaburi, terang-terangan bilang kalau malam itu lebih utama daripada siang. Kenapa?

«لأَنَّ اللَّيْلَ لِخِدْمَةِ الْمَوْلَى وَالنَّهَارَ لِخِدْمَةِ الْخَلْقِ»
"Malam itu buat khidmah (bermesraan) sama Tuhan, sedangkan siang biasanya habis buat urusan sesama makhluk."

Dan ingat, peristiwa Isra’ Mi’raj para nabi terjadi di malam hari. Malam dianggap sebagai "tangga" spiritual (Ma'arij al-Anbiya).

2. Perspektif Al-Fakir Syeikh Ismail Haqqi

Syeikh Ismail Haqqi memberikan penjelasan yang sangat sufistik:

  • · Malam = Rahasia Dzat: Malam itu tempatnya tenang (sukun). Di sinilah ada "Rahasia Dzat" yang punya tingkatan paling tinggi (Al-Martabah al-Ulya).
  • · Siang = Rahasia Sifat: Siang itu tempatnya gerak (harakah). Di sinilah ada "Rahasia Sifat" yang punya keutamaan besar (Al-Fadhilah al-Uzhma).

3. Kembali ke Titik Nol (Sukun)

Beliau mengutip Hadis Qudsi yang sangat terkenal di kalangan sufi:

«كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ، فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ»
"Aku adalah harta yang tersembunyi (Kanzan Makhfiyyan), lalu Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk."

Kalau boleh disimpulkan:

  • · Sebelum ada makhluk (gerakan/siang), yang ada hanyalah Ketenangan Murni dan Dzat Semata.
  • · Karena awal dan akhir dari segala sesuatu itu adalah ketenangan (sukun), maka malam yang melambangkan ketenangan punya posisi yang sangat sakral.

Penutup

Nah, sampai sini dulu perjalanan kita menyusuri makna “malam” dari sudut bahasa, tafsir, sampai tasawuf. Semoga yang sedikit ini bisa bikin makin kagum sama kedalaman Al-Qur’an dan kekayaan khazanah Islam.

Tapi jujur ya, apa yang dibahas di sini hanyalah secuil dari sekian banyak penafsiran yang ada. Referensi yang dipakai terbatas pada beberapa kitab klasik, dan masih banyak ulama lain dengan perspektif berbeda yang belum sempat dieksplor.

Ini bukanlah kesimpulan final, lebih seperti pintu pembuka untuk belajar lebih jauh. Ilmu tafsir itu luas bak samudra, dan kita baru coba nyebur di pinggir pantainya.

Jadi, yuk tetap rendah hati dan terus belajar. Kalau mau eksplorasi lebih dalam sendiri, silakan banget, karena pada akhirnya kita sadar bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah.

Sekian dulu dari Fushahflow,
semoga jadi pengingat yang bermanfaat.

Barakallah fikum...


Keterangan Ayat

Mendahulukan Malam daripada Siang

1. Al-Baqarah: 164

(اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ)

2. Ali ‘Imran: 190

(إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ)

3. Al-A‘raf: 54

(يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا)

4. Yunus: 6

(إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ)

5. Ar-Ra‘d: 3

(يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ)

6. Al-Furqan: 62

(وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا)

7. Az-Zumar: 5

(يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ)

8. Al-Jasiyah : 5

(وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ رِّزْقٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا)

9. An-Naba’: 10–11

(وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا • وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا)

Mendahulukan Siang daripada Malam

1. Asy-Syams: 3–4

(وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا • وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا)

2. Ad-Dhuha: 1–2

(وَالضُّحَى • وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى)