Rabiul Awal?

Kalau kemarin kita sempat bahas Shafar sebagai bulan buat "healing" atau recovery setelah perjalanan jauh, sekarang kita masuk ke bulan yang punya vibe beda banget: Rabiul Awal.

Ternyata, bulan ini punya cerita yang seru, mulai dari asal-usul namanya, mitos zaman dulu, sampai momen paling bersejarah buat kita semua. Yuk, kita kupas satu-satu!

√ Kenapa Namanya "Rabi'"?

Kalau diterjemahkan secara simpel, Ar-Rabi’ itu artinya musim semi atau masa yang melimpah. Al-Qalqashandi dalam kitabnya Subhul A’sya (2/401) cerita kalau bulan ini adalah momen orang-orang Arab zaman dulu buat menikmati hasil jerih payah mereka:

سُمِّيَ بِذَلِكَ لأَنَّهُمْ كَانُوا يَحْصِّلُونَ فِيهِ مَا أَصَابُوهُ فِي صَفَر، وَالرَّبِيعُ فِي اللُّغَةِ الخَصْب
"Dinamakan begitu karena mereka mengumpulkan hasil yang mereka dapat di bulan Shafar. Ar-Rabi’ sendiri dalam bahasa artinya subur."

Selain itu, ada juga yang bilang kalau nama "Rabi’" muncul karena orang-orang sudah mulai betah di rumah dan istirahat (irtiba’) setelah capek jalan jauh atau berperang. Yaudah, ini memang bulan buat santai dan menikmati hasil.

√ Nama Masa Jahiliyah?

Sebelum Islam datang, orang Arab punya sebutan lain buat bulan ini, yaitu Khuwwan. Menurut As-Sahari dalam kitab al-Ibanah (4/754), nama ini punya latar belakang yang agak ngeri. Dulu, perang sering banget memuncak di bulan ini sampai-sampai banyak laki-laki yang gugur:

وَسُمِّيَ رَبِيعُ الأَوَّلِ خُوَّانًا؛ لأَنَّ الحَرْبَ تَشْتَدُّ فِيهِ فَتَخُونُهُمْ أَيْ تَنْقُصُهُمْ
"Rabiul Awal disebut Khuwwan karena perang makin sengit di dalamnya, lalu (perang itu) 'mengkhianati' mereka, alias mengurangi jumlah orang-orangnya."

√ Cerita di Balik Kata "Khurafat"

Pernah dengar istilah Khurafat? Ternyata ada hubungannya sama Rabiul Awal!

Al-Mu’afa bin Zakariya dalam kitab al-Jalis as-Shalih (1/50) bilang kalau kata ini asalnya dari kharafa yang artinya "memetik buah".

Pas banget, Rabiul Awal itu masa panen (al-Kharif). Bayangkan orang-orang lagi kumpul bareng sambil metik buah, terus mereka saling lempar cerita atau dongeng buat seru-seruan.

وَاشْتِقَاقُهُ عَلَى هَذَا القَوْلِ مِنْ قَوْلِهِمْ: اخْتَرَفَ فُلَانٌ مِنْ بُسْتَانِهِ هَذِهِ الثَّمَرَةَ
"Asal katanya adalah dari ucapan: 'Si Fulan sudah memetik buah ini dari kebunnya.'"

Cerita-cerita santai saat panen itulah yang nantinya disebut khurafat. Bahkan istilah orang pikun (kharifa) juga datang dari sini, maksudnya orang yang bicaranya sudah "ngalor-ngidul" kayak dongeng pas lagi panen tadi.

√ Munculnya Istilah "Al-Wasmi"?

Di Arab, ada istilah Al-Wasmi, yaitu hujan pertama yang turun pas awal musim semi. Penjelasan dari Al-Akhfasy al-Asghar dalam al-Ikhtiyarain (1/746):

وَالوَسْمِيُّ: أَوَّلُ مَطَرِ الرَّبِيعِ. سُمِّيَ بِذَلِكَ، لأَنَّهُ أَوَّلُ مَطَرٍ يَسِمُ الأَرْضَ
"Al-Wasmi adalah hujan pertama di musim semi. Disebut begitu karena ini hujan pertama yang ngasih 'tanda' (wasama) ke tanah (dengan bikin tanah jadi subur)."

Hujan inilah yang jadi titik balik bumi yang tadinya gersang jadi hidup lagi.

√ Puncaknya?

Bagi kita, Rabiul Awal itu istimewa banget bukan cuma karena alamnya, tapi karena di sinilah lahirnya Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qazwini dalam Aja’ib al-Makhluqat (1/70) bilang kalau bulan ini adalah bulan penuh berkah karena Allah membuka semua pintu kebahagiaan buat alam semesta.

هُوَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَتَحَ اللَّهُ فِيهِ أَبْوَابَ السَّعَادَاتِ عَلَى العَالَمِينَ بِوُجُودِ سَيِّدِ المُرْسَلِينَ ﷺ
"Ini adalah bulan penuh berkah. Allah membuka pintu-pintu (السَّعَادَاتِ) kebahagiaan bagi seluruh alam dengan datangnya pemimpin Para Rasul."

Selain Maulid di tanggal 12, ada juga sejarah lain:

  • 8 Rabiul Awal: Rasulullah ﷺ sampai di Quba pas lagi Hijrah.
  • 10 Rabiul Awal: Pernikahan agung beliau sama Sayyidah Khadijah RA.

Kesimpulannya?

Rabiul Awal itu bulan yang "hidup". Dalam siklus alam, bulan ini adalah masa panen, secara sejarah juga punya dinamika yang unik. Dan yang paling penting, bulan ini adalah "musim semi" buat jiwa kita, menjadi titik di mana rahmat Ilahi turun menghidupkan kembali hati yang layu, memanen iman setelah menabur amal, dan mengenang kelahiran Sang Cahaya yang menyinari setiap sudut kehidupan.

Semoga kita dipertemukan kembali pada Rabiul Awal yang akan datang, dengan hati yang lebih lapang dan jiwa yang lebih bersemi. Bulan yang penuh berkah, untuk menjadikan kita bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga "memetik" pelajaran, "menyiram" jiwa dengan cinta Nabi ﷺ, dan "menumbuhkan" kebaikan dalam diri dan sekitar kita. Seperti hujan Al-Wasmi yang memberi tanda pada tanah, semoga Rabiul Awal nanti atau yang telah lewat meninggalkan jejak "berkah" yang tumbuh subur sepanjang tahun. Amin....

Wallahu a'lam..
Semoga bermanfaat...
Barakallah Fikum.........